Langsung ke konten utama

WANITA CERDAS BERBELANJA!




Wanita dan belanja bagaikan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di mana ada pusat belanja, di sana ada wanita. Berbagai macam barang pun ditawarkan demi memenuhi kebutuhan wanita. Baju? Tas? Sepatu? Aksesoris? Kosmetik? Semua ada! Ya, wanita memang menjadi sasaran empuk bagi para produsen. Berbagai model diciptakan, potongan harga pun diberikan. Tapi tunggu dulu, jangan sampai semua ini membuat kita, para wanita, menjadi gelap mata dalam belanja.

Sejak menghirup udara di dunia, manusia terlahir sebagai seorang konsumen. Konsumen udara, air susu ibu, popok, pakaian, dan lain sebagainya. Dari barang atau jasa yang gratis, hingga yang bernilai ekonomis. Manusia memang konsumen sejati dalam hidupnya. Demikian pula dengan wanita, wanita adalah konsumen sejati. Tak hanya sebagai konsumen biasa, wanita dikenal sebagai konsumen yang “luar biasa”. Luar biasa karena kebutuhan wanita yang sangat beragam rupanya, dan luar biasa karena kebiasaan para wanita berbelanja yang tak ada habisnya.


Wanita, mulai dari yang muda hingga yang dewasa, memang memiliki banyak kebutuhan. Pakaian contohnya, ada pakaian untuk di rumah, untuk kerja, untuk hang out, untuk ke pesta, dan lain sebagainya. Modelnya? Ada celana, rok, kemeja, blouse, dress, gaun, dan berbagai model lainnya yang tak ada habisnya. Itu baru pakaian, belum sepatu atau sandal, tas, aksesoris pelengkap seperti kalung, gelang, sabuk, dan lain-lain. Kosmetik? Ada alas bedak, bedak, perona pipi, maskara, pemerah bibir, dan masih ada sederet kosmetik lainnya. Kebutuhan wanita memang luar biasa, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Banyaknya kebutuhan wanita inilah yang menjadi peluang menggiurkan bagi para produsen. Ditambah lagi dengan wanita yang mudah terpikat dengan godaan potongan harga. Konsumen wanita pun menjadi sasaran penjualan berbagai produk. Sebagian produsen memang tetap memperlakukan wanita sebagai konsumen yang memegang kendali penjualan produk mereka. Tapi, tak jarang produsen yang menjadikan konsumen wanita sebagai sumber keuntungan semata.

Produsen, dengan berbagai strateginya, membuat kita para wanita harus semakin cerdas menghadapinya. Jangan sampai kita hanya menjadi objek keuntungan semata. Sebenarnya ada beberapa kiat yang disosialisasikan Kementerian Perdagangan untuk menjadi konsumen cerdas. Kiat-kiat ini bisa kita gunakan sebagai pegangan. Apa saja?

1.       Tegakkan hak dan kewajiban sebagai konsumen.
Sebagai seorang konsumen, wanita juga memiliki hak dan kewajiban. Di Indonesia, hak dan kewajiban konsumen ini sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 4 dan 5. Hak-hak konsumen meliputi hak untuk:

a.  mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. memilih barang dan/atau jasa yang akan digunakan sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
d. didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
e.  mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h. mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan
i. mendapatkan hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Sedangkan kewajiban konsumen antara lain:
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
b. beritikad baik dalam melakukan transaksi;
c.  membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati; dan
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Dituangkannya hak dan kewajiban konsumen dalam undang-undang ini seharusnya bisa memberikan kita ketenangan karena hak dan kewajiban kita sudah memiliki payung hukum. Jadi kita bisa tegas memperjuangkan hak kita, tanpa mengesampingkan kewajiban kita sebagai konsumen. Nah, dalam memperjuangkan hak kita sebagai konsumen, ada berbagai penyelesaian yang tersedia, mulai dari penyelesaian langsung dengan pelaku usaha, Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM), Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), pemerintah meliputi Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pos Pengaduan dan Pelayanan Informasi Direktorat Pemberdayaan Konsumen, serta Sistem Pengawasan Perlindungan Konsumen Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, ataupun penyelesaian melalui pengadilan.

2.       Teliti sebelum membeli
Kiat satu ini sepertinya sudah diterapkan oleh para wanita sejak lama. Kebanyakan wanita memang teliti dalam memilih barang atau jasa yang akan mereka beli. Jahitan pakaian yang rapi, alas sepatu yang nyaman digunakan, tali tas yang kuat, dan hal-hal detail lainnya bisa menjadi pertimbangan saat wanita akan membeli barang. Ketelitian ini tentu akan menghindarkan kita dari barang-barang yang kurang berkualitas. Tak hanya itu, semakin selektif kita memilih, produsen pun akan semakin terpacu untuk membuat barang-barang yang berkualitas agak produknya memikat hati para konsumen.

3.       Perhatikan Label, Kartu Manual Garansi, dan Masa Kadaluarsa.

Wanita mana yang mau wajahnya rusak karena merkuri? Tidak ada kan. Maraknya kosmetik yang mengandung bahan berbahaya ini adalah satu peringatan bagi kita semua untuk lebih kritis memperhatikan produk yang akan kita gunakan. Komposisi, manfaat, aturan pakai, dan masa kadaluarsa memang sangat perlu kita perhatikan. Tak hanya kosmetik, berbagai produk lainnya juga harus kita perhatikan label, kartu manual garansi, dan masa kadaluarsanya. Makanan contohnya, ada baiknya para muslim memperhatikan ada tidaknya label halal di kemasannya.

4.       Pastikan produk sesuai dengan Standar Mutu K3L.
Kalau kita perhatikan, berbagai produk di Indonesia memiliki tanda SNI atau Standar Nasional Indonesia. Produk yang bertanda ini lebih memberikan jaminan kepastian atas Kesehatan, Keamanan, dan Keselamatan konsumen serta Lingkungan (K3L). Helm contohnya. Untuk mendukung mobilitas wanita, saat ini sudah terdapat berbagai helm yang tak hanya modis, tetapi juga bertanda SNI untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan kita saat berkendara. Selain SNI, standar lain yang digunakan di dunia adalah Japanese Industrial Standards (JIS), British Standards (BS), American Society for Testing and Materials (ASTM), Codex Standard, Conformite Europeenne (CE), dan lain-lain.

5.       Beli sesuai kebutuhan bukan keinginan.
Hal satu ini memang benar-benar harus menjadi perhatian para wanita. Terkadang wanita tak berpikir panjang dalam berbelanja, bahkan gelap mata melihat godaan potongan harga walau barang itu tidak kita butuhkan. Ada baiknya kita membuat skala prioritas barang-barang yang kita butuhkan. Jadi kita bisa mengutamakan kebutuhan kita daripada sekedar menuruti keinginan saja.

Selain kiat-kiat tadi, kita juga harus memiliki tanggung jawab sosial sebagai konsumen, meliputi membeli produk dalam negeri, bijak menjaga bumi, dan menerapkan pola konsumsi yang sehat. Tentu saja dengan memperhatikan tanggung jawab sosial ini, kita akan membawa kebaikan bagi banyak pihak, seperti pengrajin serta petani Indonesia akan lebih meningkat penghasilannya saat produknya kita beli, lingkungan lebih terjaga saat kita mengganti plastik belanja dengan tas belanja yang ramah lingkungan, dan lain sebagainya. Kita, para wanita, tak hanya harus mengetahui kiat-kiat menjadi konsumen yang cerdas tadi. Kita harus menerapkannya dalam kehidupan kita. Dengan demikian, kita tak hanya dikenal sebagai wanita yang suka berbelanja, tetapi juga wanita yang cerdas berbelanja!

Lomba Menulis dan Kontes SEO 2013 Konsumen Cerdas

* Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis dan Kontes SEO 2013 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan. Semoga bermanfaat..:)

Komentar

  1. semangaaat! Semoga menang juara pertama :D

    BalasHapus
  2. aammiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn...makasih maasss..:)

    BalasHapus
  3. apakah anda puas dengan juara lomba ini
    mohon kunjunganya
    di artikel sederhana saya

    http://najibkarya.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal!
      kalau saya sih ga mmpermasalahkan gimana juaranya,kan itu tergantung penilaian juri (dn itu cenderung subjektif)..saya ikut lomba2 gini utk nantang diri sendiri,bs bikin tulisan yg "diakui" ga,bs "terpaksa" nambah wawasan slama cari bahan juga..:D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

the art of "ngeteng":: Bintaro-Bandar Lampung!

back to Bintaroooo... Alhamdulillah udah balik ke Bintaro lagi, semoga aja otak bisa lebih fresh untuk nerima materi kuliah lagi.. Amiiinn...:D

Sekitar Dua Minggu Lalu Ya, sekitar dua minggu lalu saya menggalau. Bukan, bukan galau cinta. Juga bukan galau akademis. Kali ini saya galau liburan. Dalam rangka Natal dan Tahun Baru, kampus memberikan Libur selama satu minggu. Dan ditambah dengan hasil lobi dengan para dosen, libur kami bertambah menjadi dua minggu. Cukup lama. Tapi tak cukup lama bagi saya yang berkampung halaman di ujung timur Pulau Jawa ini. Bintaro-Bondowoso. Sekitar 22 hingga 24 jam by bus lah, itu kalau lancar. Akhir tahun lalu, ketika saya pulang kampung pas masa-masa liburan akhir tahun seperti ini, saya harus merelakan diri terduduk lesu di dalam bis selama 30 jam karena macet parah.

SUSU, SEHAT DAN HALAL!

"Eh Ari, lucunyaaa... Gendut banget.. Tante jadi gemes nih! Ari suka minum susu ya kok bisa gendut gini,,??"
Susu? Bikin gendut? Hehe.. Dulu sih saya juga sempat berpikir seperti itu. Susu kan penuh lemak, ntar saya gendut dong kalau saya minum susu. Hmm, minum susu=gendut? Oke, saya yang (dulu) kurus bisa gemukan kalau minum susu! Eits, itu dulu... Sekarang? Ya, setelah sekian lama minum susu, saya pun jadi agak gemuk (hiks,,dulu sih pengen agak gemuk,tapi sekarang pengen kurus lagi), tapiii bukan susu kok penyebabnya! :D
Empat Sehat Lima Sempurna Masih ingat ga dengan kata-kata di atas? Slogan ini saya dapatkan ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, entah kelas berapa. Saya yang masih unyu waktu itu mendapatkan penjelasan bahwa tubuh kita membutuhkan beberapa jenis makanan yang kita kenal dengan sebutan empat sehat lima sempurna. Ajian sakti ini terdiri dari makanan pokok, sayur mayur, lauk pauk, dan buah-buahan. Jika mengkonsumsi empat jenis makanan itu, badan kita…