Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

SEPASANG SEPATU COKLAT

Cerita ini saya buat beberapa bulan lalu, ketika saya kembali membuka salah satu majalah langganan saya waktu SMA -tapi sekarang majalahnya sudah berubah versi menjadi majalah online-... Dengan semangat empat lima saya membuat cerita ini, dan berharap tulisan saya yang geje ini dimuat. Ternyata tanggapan dari pihak majalah cerpen saya"kurang greget". Ya iyalah, ini cerpen pertama saya.. Hohoho.. Ya udahlah, daripada ni cerpen mubazir, mending diposting di blog aja..give a comment ya sodara-sodara.. :D
Siang itu, seperti biasa aku berjalan menyusuri tangga kampus. Namun ada yang terasa kurang nyaman dengan kakiku. Ah, ternyata sepatu coklat kesayanganku ini sudah tidak sempurna lagi. Kebiasaan burukku memakai sepatu setengah bagian -dan menginjak sebagian lainnya- selalu membuat sepatu-sepatuku tak pernah berumur lama. Segera otakku memutar ulang suara sol sepatu yang pernah terekam di telingaku. Ya, aku pernah mendengar tukang sol sepatu melewati kostku di jam-jam tertentu. C…

BERSAHABAT DENGAN WAKTU..

Di masa awal perkuliahan tingkat tiga ini, entah mengapa dosen-dosen saya dengan begitu kompaknya memberikan berbagai tugas tanpa henti. Paper, resume, makalah, presentasi, latihan soal. Rasanya tak ada minggu tenang tanpa tugas. Dan sebagai akibatnya, saya jadi harus browsing sana sini untuk mencari materi. Kemarin, setelah browsing-browsing, saya membuka akun email saya untuk membuka kiriman tugas kelompok dari seorang teman. Dan seperti biasa, sebelum membuka email, saya menyempatkan diri membaca artikel berita yang ada di home email saya. Njleb! Ada satu judul berita yang sangat mengenaskan, saya pun membacanya. Berita itu tentang seorang balita yang berkali-kali terlindas mobil. Diceritakan bahwa balita ini berjalan di jalan depan rumahnya saat tiba-tiba sebuah van melintas dan melindasnya. Tak hanya sekali itu, tubuh ringkih balita itu kembali dilindas truk. Dan orang-orang di sekitarnya membiarkannya begitu saja hingga akhirnya ada seorang pemulung yang menolongnya.
Hmm, tiba…